Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita UtamaOpini

Budaya Sekura Dulu Dan Kini di Pelosok Kota Lampung

749
×

Budaya Sekura Dulu Dan Kini di Pelosok Kota Lampung

Sebarkan artikel ini

Oleh : Edi Saputra
Pimred Media PusranNews.com

PusaranNews.com, Lampung Barat – Potret budaya sekura cakak buah (Pinang), jaman dahulu hingga sekarang. Pergeseran waktu, jaman, adat istiadat semua sudah ada pergeseran perubahan, dari terdahulu yang diturunkan oleh nenek moyang selaku penggagas dan penggerak.

Sekura cakak buah, tradisi turun temurun hususnya, Kecamatan Belalau dan Batubrak, dan kecamatan lainnya di Lampung Barat yang ikut memeriahkan.

Namun bergesernya waktu, bergeser pula adat budaya sekura dimaksud. Meskipun tujuan tetap sama yakni untuk merayakan kemenangan usai menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh sekaligus menjalin silaturahmi antar keluarga baik yang dekat maupun yang jauh.

Sekura cakak buah, dari dahulu digerakkan oleh mulli mekhani (Bujang Gadis), pekon yang akan melaksanakannya dan direstui tua-tua kampung hingga terjadi mupakat dan melaksanakan pesta sekura dengan menentukan waktu pelaksanaan pesta di gelar.

Begitu pun hingga saat ini, dahulu setiap pesta sekura digelar maka muli mekhanai menyiapkan batang pinang hingga memoles batang menjadi licin dan dibuat lingkaran di atas pohon pinang untuk menarok ataupun menggantung buah atau isi pinang itu, baik berupa kain, makanan, minuman hingga sepeda dan lainnya.

Hingga panitia menegakkan batang pinang dimaksud sampai pada ahirnya dilakukan panjat pinang. Namun sebelum proses panjat pinang, para muli dan mekhanai menyiapkan ruang panitia untuk tempat koordinasi dari pekon mana saja yang mendaftar untuk ikut panjat pinang meskipun hanya satu orang perwakilan nantinya yang memanjat dan berbagai isi buah.

Panitia terdahulu, menyiapkan ruang panitia husus yang dipagar keliling didepan salah satu rumah warga, dimana terdahulu lokasi penitia untuk memperagakan berbagai macam atraksi kesenian Lampung, husunya Lampung Barat.

Kesenian terdahulu yang di pertontonkan kepada para penonton yang mengerubingi lokasi panitia yakni, seni pencak silat, tari-tarian, hadra, muayak dan lainnya, dimana para sekura yang bergantian tampil, akan mendapat saweran dari para panitia seperti rokok ataupun uang, meskipun tidak seberapa nilainya namun sangat berkesan.

Atraksi pun bergantian dari para sekura untuk tampil, kesan seni dan budayanya sangat mengikat dan erat, antusias para penonton dari berbagai penjuru desa berdesakan berkumpul untuk melihat atraksi-atraksi bernilai seni oleh para sekura.

Atraksi di gelar sepanjang pesta sekura digelar, hingga panitia penetapkan pembagian batang buah pinang hingga waktunya untuk dipanjat.

Para masyarakat yang menonton hiruk pikuk dengan sekura yang lalu lalang, baik yang bersalaman dengan para penonton maupun berjualan, seperti sirup, es dan bebagai sayuran yang dibawa dari alam atau tumbuh alami, yang dinamakan paku, jabung dan kabing.

Biasanya terdahulu setiap mulli (Gadis) yang nonton sekura mencari tempat ternyaman untuk nonton baik dirumah saudara atau rumah teman, dan para rombongan mulli dimaksud selalu dijaga atau diawasi salah satu Mekhanai (Bujang) untuk menghindari perbuatan jahil para sekura.

Kejahilan para sekura bukan pula berbuat hal tidak senonoh, namun saat sekura melihat para mulli mereka akan berbuat untuk bersalaman, hal ini yang di antisipasi hingga mencari tempat ternyaman.

Terdahulu sekura (Topeng) terbagi dari dua bagian, yakni sekura kamak (kotor) dan sekura betik (Bagus) tentunya dengan menjaga etika adat dengan pakaian tetap sopan.

Namun bergulirnya waktu, jika sebelumnya sekura digerakkan oleh mulli mekhanai sepenuhnya, namun kini justru para orang tua, sekura betik dan sekura jahal tidak lagi nampak jelas.

Para mulli yang sebelumnya mencari tempat aman menghindari kejahilan para sekura namun kini justru ikut sekura bahkan menari diatas panggung, perubahan jaman tidak bisa kita pungkiri, inilah kemajuan yang patut kita dukung.

Sementara lokasi panitia tempat atraksi para sekura untuk menampilkan budaya, kini berubah menjadi panggung Dj dan tempat penumpukan sampah, yang dibawa oleh para sekura dari berbagai pekon dengan seruan limukkkkkkkon.

Perubahan budaya yang begitu cepat dan melakat pada masyarakat akan merubah tampilan dan pembawaan oleh generasi Gen Z, mereka justruk tidak tahu akan asal muasal sekura cakak buah sebenarnya yang diwariskan.

Apakah perubahan budaya sekura cakak buah dahulu dan kini masih bisa kita perbaiki, apakah memang ini yang harus diwariskan kepara generasi penerus saat ini!!!.. (*)

https://pusarannews.com/wp-content/uploads/2025/12/2026-ucapan.jpg