PusaranNews.com, Jabar – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1994 dengan kapasitas awal 110 MW.
Terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi, fasilitas ini dikelola melalui kontrak kerja sama dengan Pertamina Geothermal Energy dan kini menjadi salah satu produsen energi hijau terbesar di dunia.
Kini dengan kapasitas terpasang 403,2 Megawatt (MW), operasi Salak terus berkembang dengan prinsip meningkatkan kontribusi energi bersih.
Menurut Irwan Januar, Kepala Teknik Star Energy Geotermal Salak Ltd, Kapasitas tersebut berasal dari Unit 1, 2, dan 3 sebesar 180 MW, Unit 4, 5, dan 6 sebesar 208,7 MW, serta Binary Power Plant sebesar 14,5 MW yang mulai beroperasi pada 2025.
“Ke depan, pengembangan Unit 7 berkapasitas 40 MW yang direncanakan beroperasi secara komersial pada Desember 2026 akan membawa kapasitas Salak menjadi sekitar 443 MW”, ungkapnya.
Lanjut dia, operasi panas bumi membutuhkan perspektif jangka panjang, peningkatan kapasitas dan efisiensi harus berjalan beriringan dengan menjaga lingkungan sekitar.
“Selama lebih dari tiga dekade, Salak terus menghasilkan energi terbarukan yang andal sekaligus berkembang melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi sumber daya yang telah ada. Bagi kami, pertumbuhan juga harus berjalan dengan disiplin dalam membatasi jejak operasi serta menjaga ekosistem tempat kami beroperasi,” ujar Irwan.
Dari total wilayah kontrak sekitar 10.000 hektare, fasilitas SEGS hanya menggunakan sekitar 236 hektare atau kurang dari 2,4 persen untuk kebutuhan operasional. Pengelolaan luasan ini menjadi bagian dari pendekatan membatasi dampak kegiatan di kawasan Halimun-Salak.
Konservasi dan Pemulihan Ekosistem
SEGS menjalankan program restorasi ekosistem dan pemantauan keanekaragaman hayati jangka panjang, salah satunya melalui Green Corridor Initiative yang telah merestorasi sekitar 275 hektare habitat dengan menanam 250.000 tanaman dari 30 jenis pohon asli Halimun-Salak. Program ini bertambah tutupan vegetasi, memulihkan fungsi habitat, dan memperkuat konektivitas ekologis.
Hasil pemantauan menunjukkan perbaikan yang positif: pada 2023–2025, indeks keanekaragaman fauna Shannon-Wiener meningkat dari 2,50 menjadi 3,20, sedangkan indeks keanekaragaman flora naik dari 2,52 menjadi 2,67. Kerapatan tajuk vegetasi juga terjaga di kisaran 60–80 persen tanpa penurunan berarti sejak pemantauan tahun 2014.
Head of Social Investment, Policy and Communications Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, menjelaskan keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam. “Yang lebih penting adalah apakah fungsi habitat dan konektivitas ekologisnya kembali. Karena itu, kami gunakan data dan pemantauan jangka panjang untuk menentukan langkah selanjutnya,” tegasnya.
Pendekatan berbasis data ini dilakukan melalui kolaborasi multipihak, termasuk Java-wide Leopard Survey (JWLS) di Halimun-Salak. Dengan 240 kamera pengintai di 120 lokasi, survei berhasil mengidentifikasi 51 individu Macan Tutul Jawa termasuk tiga anakan. Selain itu, pemantauan juga mendokumentasikan 10 sarang aktif Elang Jawa—tujuh di Gunung Salak dan tiga di Gunung Halimun—yang menjadi data penting bagi pelestarian spesies langka tersebut.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Komitmen keberlanjutan juga menyentuh masyarakat sekitar. Sepanjang 2024–2025, program di bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan menjangkau lebih dari 1.500 penerima manfaat, meliputi layanan kesehatan bagi 1.019 warga, beasiswa untuk 27 mahasiswa, serta peningkatan kompetensi 144 guru di enam sekolah.
Dari sisi ekonomi, operasi ini menyerap sekitar 1.100 tenaga kerja kontraktor, di mana 88 persennya berasal dari wilayah Sukabumi dan Bogor.
Ke depannya, SEGS menegaskan akan melanjutkan pengembangan dengan pendekatan yang menyelaraskan aspek energi, ekosistem, dan masyarakat, agar peningkatan pasokan energi bersih tetap berjalan beriringan dengan pelestarian bentang alam Halimun-Salak. (*)








