Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita UtamaLampung Barat

Ust Hernadi: Manusia Hakikatnya Fakir, Allah Mahakaya

94
×

Ust Hernadi: Manusia Hakikatnya Fakir, Allah Mahakaya

Sebarkan artikel ini

PusaranNews.com, Lampung Barat – Kajian keislaman dalam kegiatan rutin Pembacaan Zikir Rotibul Hadad di Masjid Al-Iman Sukamenanti, Pasar Liwa, Sabtu malam (26/9/2026), berlangsung dengan penuh khidmat. Kegiatan tersebut diisi dengan tausiah yang mengajak jamaah untuk semakin menyadari ketergantungan manusia kepada Allah SWT.

Pembina Majelis Zikir Rotibul Hadad, Ust Hernadi, dalam tausiahnya mengangkat kandungan QS. Fāṭir ayat 15 sebagai bahan renungan bagi jamaah.

“QS. Fāṭir ayat 15 dalam kehidupan sangat dalam. Ayat ini mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya fakir dan membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk,” kata Ust Hernadi.

Ia menjelaskan, makna al-fuqarā’u ilallāh dalam ayat tersebut mengandung kesadaran bahwa manusia, dalam keadaan apa pun, tetap membutuhkan pertolongan dan kasih sayang Allah SWT.

Menurutnya, kesadaran tersebut harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, bukan hanya dipahami sebagai pengetahuan agama.

Jangan Sombong atas Apa yang Dimiliki
Ust Hernadi mengingatkan jamaah agar tidak mudah sombong atas segala sesuatu yang dimiliki. Harta, jabatan, ilmu, kesehatan, keluarga maupun berbagai keberhasilan dalam kehidupan pada hakikatnya merupakan pemberian Allah SWT.

Karena itu, manusia tidak sepatutnya merasa paling hebat atau paling mampu. Justru semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula kesadaran untuk bersyukur dan merendahkan hati di hadapan Allah.

Ikhtiar, Kemudian Tawakkal
Ia juga mengingatkan pentingnya menempatkan ikhtiar dan tawakkal secara benar.

“Berusaha tetap wajib, tetapi hati jangan bergantung sepenuhnya kepada usaha, manusia, jabatan ataupun harta. Setelah berikhtiar, bertawakkallah kepada Allah,” pesannya.

Menurutnya, manusia tetap harus bekerja, berusaha dan menggunakan berbagai sebab yang tersedia. Namun hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah SWT.

Rajin Berdoa dan Bersyukur
Kesadaran bahwa manusia adalah al-fuqarā’, yakni makhluk yang membutuhkan Allah, juga harus mendorong seseorang untuk memperbanyak doa.

“Doa bukan tanda kelemahan. Doa merupakan pengakuan bahwa kita memang membutuhkan pertolongan Allah,” jelasnya.

Begitu pula ketika mendapatkan rezeki, kesehatan, keberhasilan maupun kemudahan, hendaknya manusia tidak semata-mata menganggap semuanya sebagai hasil kemampuan dirinya sendiri.

Kemampuan untuk bekerja keras, kesehatan untuk beraktivitas, kesempatan untuk berusaha, hingga datangnya berbagai peluang, semuanya merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Jangan Berlebihan Ketika Kehilangan
Dalam tausiahnya, Ust Hernadi juga mengajak jamaah untuk tidak larut dalam kekecewaan ketika kehilangan sesuatu.

Harta dapat berkurang, jabatan dapat berakhir, bahkan manusia yang kita cintai dapat pergi. Namun Allah SWT tetap ada.
Karena itu, ketenangan hidup hendaknya tidak digantungkan sepenuhnya kepada sesuatu yang sifatnya sementara.

Gemar Berinfak dan Membantu Sesama
Pemahaman tentang manusia yang membutuhkan Allah juga, menurut Ust Hernadi, seharusnya mendorong seseorang untuk gemar berinfak dan membantu sesama.

“Ketika kita memberi kepada orang lain, sebenarnya Allah tidak membutuhkan pemberian kita. Justru kitalah yang membutuhkan pahala dan rahmat Allah,” tuturnya.
Karena itu, infak dan sedekah hendaknya dilakukan dengan ikhlas, tanpa merasa lebih tinggi daripada orang yang menerima.

Amanah dalam Kehidupan Berjamaah
Lebih lanjut, Ust Hernadi mengaitkan pesan QS. Fāṭir ayat 15 dengan kehidupan berjamaah, termasuk dalam mengelola amanah di masjid.
Ia mengingatkan agar ukuran manusia tidak dijadikan satu-satunya ukuran dalam menjalankan amanah. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas, amanah, transparan dan sesuai dengan syariat.
“Kita semua sama-sama membutuhkan Allah,” tegasnya.

“Kita Ini Fakir di Hadapan Allah”

Menutup tausiahnya, Ust Hernadi mengajak jamaah untuk menjadikan QS. Fāṭir ayat 15 sebagai bahan introspeksi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, apabila kesadaran tersebut benar-benar tumbuh dalam hati, seseorang akan lebih mudah rendah hati ketika mendapatkan nikmat, sabar ketika diuji, ikhlas ketika memberi, serta bertawakkal ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sebab, yang dibutuhkan manusia bukan sekadar pertolongan dari sesama manusia, tetapi pertolongan Allah SWT melalui sebab-sebab yang Allah hadirkan.

Kegiatan rutin Pembacaan Zikir Rotibul Hadad di Masjid Al-Iman Sukamenanti tersebut menjadi salah satu ruang bagi jamaah untuk memperkuat zikir, memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus melakukan muhasabah agar kehidupan semakin dekat dengan Allah SWT. (*)

https://pusarannews.com/wp-content/uploads/2025/12/2026-ucapan.jpg