PusaranNews.com, Lampung Barat – PT Syngenta Indonesia menggelar kegiatan penyuluhan dan demplot pengendalian hama terpadu pada tanaman kopi di Pekon Bedudu, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang diikuti puluhan petani kopi dari Kelompok Tani setempat ini fokus pada penanganan hama utama kopi di wilayah tersebut, yakni Penggerek Buah Kopi (PBKo) / _Hypothenemus hampei_ dan penggerek batang, yang kerap menyebabkan penurunan hasil panen hingga 20-30 persen.
Monica PT Syngenta, dalam materinya menjelaskan pentingnya identifikasi dini dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
“Petani kami ajak untuk tidak hanya mengandalkan penyemprotan. Kuncinya adalah kombinasi sanitasi kebun dengan memetik semua buah yang terserang dan jatuh, pemangkasan untuk menjaga kelembaban, dan penggunaan insektisida yang tepat sasaran dan sesuai dosis,” ujarnya di sela kegiatan.
Dalam kegiatan tersebut, Syngenta juga memperkenalkan solusi perlindungan tanaman yang ramah lingkungan dan demonstrasi cara aplikasi yang aman dan efektif, mulai dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) hingga pengaturan interval semprot agar tidak menimbulkan resistensi hama.
Peratin Pekon Bedudu Alexsander Metias menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, kopi merupakan komoditas utama penopang ekonomi warga Belalau, sehingga pengetahuan tentang penanganan hama yang benar sangat dibutuhkan.
“Harapannya setelah ada pendampingan dari Syngenta, petani kami lebih paham cara merawat kopi yang benar. Jadi hasil panen meningkat, kualitas biji juga lebih bagus,” katanya.
Salah satu petani peserta, mengaku terbantu dengan adanya sekolah lapang ini. Selama ini ia kesulitan membedakan serangan PBKo dan jamur.
“Biasanya kalau sudah berlubang baru kami semprot. Ternyata harus dari pencegahan dan kebersihan kebun dulu. Tadi juga diajari cara lihat waktu semprot yang tepat,” ungkapnya.
Melalui program ini, PT Syngenta berkomitmen untuk terus mendampingi petani kopi di Lampung Barat agar mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim dan serangan hama. (*)








