Scroll untuk baca berita
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita UtamaEkonomi dan BisnisLampung Barat

Masuk Juni, Harga Kopi Robusta Lampung Barat Belum Naik

130
×

Masuk Juni, Harga Kopi Robusta Lampung Barat Belum Naik

Sebarkan artikel ini

PusaranNews.com, Lampung Barat – Memasuki awal, Juni 2026, harga biji kopi robusta, komoditas andalan masyarakat Kabupaten Lampung Barat, belum menunjukkan pergerakan kenaikan yang berarti.

Bahkan, tingkat harga saat ini tercatat masih lebih rendah dibandingkan periode panen di tahun sebelumnya, meskipun produksi lokal dilaporkan mengalami penurunan yang cukup tajam.

Berdasarkan data dari sejumlah pemasok kopi di wilayah tersebut, harga jual di tingkat petani saat ini bertahan di kisaran Rp50.000 hingga Rp52.000 per kilogram.

Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan harga yang berlaku pada musim panen tahun lalu yang mencapai Rp70.000 per kilo, sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan petani.

Selain menghadapi harga yang belum membaik, petani juga harus menanggung kenyataan hasil panen tahun ini berkurang drastis.

Penurunan produksi terjadi akibat sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu hingga menurunnya produktivitas tanaman kopi di berbagai lahan.

Rosikin, seorang pemasok kopi yang beroperasi di Kecamatan Air Hitam, mengungkapkan bahwa secara logika pasar, kondisi penurunan pasokan seharusnya mendorong kenaikan harga jual. Namun kenyataan di lapangan berjalan sebaliknya.

“Kalau melihat kondisi panen tahun ini yang turun lebih dari 40 persen dibanding musim sebelumnya, seharusnya harga jual kopi bisa jauh lebih tinggi. Namun sampai saat ini harga masih bertahan di kisaran Rp50 ribu sampai Rp52 ribu per kilogram,” ujar Rosikin.

Menurutnya, harga kopi lokal tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi produksi di daerah, melainkan sangat bergantung pada dinamika pasar internasional. Berbagai faktor yang terjadi di tingkat global memiliki pengaruh besar terhadap nilai jual yang diterima petani di Lampung Barat.

“Penentuan harga kopi saat ini banyak dipengaruhi harga dunia. Kondisi geopolitik, termasuk konflik yang terjadi di Timur Tengah, ikut memberikan dampak terhadap alur perdagangan komoditas secara global,” ungkapnya.

“Selain itu, negara-negara produsen kopi terbesar seperti Brasil saat ini juga sedang memasuki masa panen raya, sehingga pasokan kopi di pasar dunia menjadi melimpah,” jelasnya.

Melimpahnya pasokan dari negara-negara penghasil utama ini, menurut Rosikin, menjadi alasan utama mengapa harga kopi dunia belum mampu naik. Kondisi ini berlaku meskipun sejumlah wilayah penghasil kopi di Indonesia justru mengalami penurunan hasil panen.

“Pasar kopi itu saling terhubung satu sama lain. Walaupun hasil panen petani di Lampung Barat turun drastis, jika pasokan dari negara produsen besar masih banyak dan berlimpah, maka harga di pasar dunia akan sulit terdorong naik secara signifikan. Dampaknya, harga yang diterima petani di sini juga tetap rendah,” tambahnya.

Di tengah situasi yang kurang menguntungkan tersebut, sejumlah petani masih menyimpan harapan. Mereka berkeyakinan harga kopi masih memiliki peluang untuk mengalami kenaikan pada pertengahan hingga akhir masa panen nanti.

Para petani berharap permintaan pasar akan meningkat, sehingga dapat memberikan nilai jual yang lebih layak dan membantu menutupi kerugian akibat berkurangnya jumlah hasil panen tahun ini.

Kopi hingga kini masih menjadi tulang punggung perekonomian bagi ribuan keluarga yang tinggal di Kabupaten Lampung Barat.

Oleh karena itu, stabilitas dan kewajaran harga komoditas ini menjadi perhatian utama, terutama saat masyarakat sedang berjuang melalui masa panen raya tahun ini. (*)

https://pusarannews.com/wp-content/uploads/2025/12/2026-ucapan.jpg