PusaranNews.com, Lampung Barat – PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) memulai Program Restorasi Bentang Alam Sekincau melalui rehabilitasi tahap awal seluas 15 hektare di koridor jalan proyek kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).
Program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang SEGSS dalam mendukung pemulihan ekosistem berbasis ilmu pengetahuan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Program rehabilitasi ini menjadi langkah awal pemulihan bentang alam seluas 115 hektare yang akan dilaksanakan secara bertahap dalam periode 2026-2027.
Targetnya pada tahun 2026, SEGSS akan merehabilitasi total 65 hektare, yang terdiri atas 15 hektare di sepanjang koridor jalan proyek dan 50 hektare pada kawasan terdegradasi yang telah diidentifikasi bersama Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS).
Selanjutnya, pada tahun 2027, rehabilitasi akan dilanjutkan pada 50 hektare kawasan terdegradasi lainnya.
Head of Social Investment, Policy, and Corporate Communication Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita mengatakan, Rehabilitasi tahap awal ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang SEGSS dalam mendukung pemulihan bentang alam dan fungsi ekologis kawasan.
“Melalui rehabilitasi seluas 115 hektare, kami berharap dapat berkontribusi nyata pada perlindungan keanekaragaman hayati dan penguatan ketahanan ekosistem di TNBBS,” kata Laksmi.
Lanjut dia, Program ini menargetkan penanaman pohon dari berbagai spesies asli TNBBS yang dipilih berdasarkan kajian ilmiah dan karakteristik ekosistem setempat guna mempercepat pemulihan tutupan vegetasi, meningkatkan kualitas habitat satwa liar, serta memperkuat fungsi ekologis kawasan secara berkelanjutan.
“Target kami penanaman pohon dari 97 spesies asli Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, SEGSS memprioritaskan penggunaan sekitar 10 spesies pohon asli kawasan, yaitu Pulai, Damar, Meranti, Medang, Merawan, Blangiran, Ketapang, Kayu Manis, Duku Hutan, dan Ficus spp,” terang dia.
Seluruh spesies tersebut dipilih berdasarkan hasil Environmental Impact Assessment (EIA) serta telah memperoleh persetujuan teknis dari BBTNBBS guna memastikan kesesuaiannya dengan kondisi ekologis kawasan dan mendukung keberhasilan pemulihan habitat dalam jangka panjang.
“Melalui Program ini, SEGSS berupaya menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan upaya konservasi, sehingga mampu memberikan manfaat bagi ketahanan energi nasional sekaligus keberlanjutan lingkungan,” tambah Laksmi.
Dalam pelaksanaannya, SEGSS melibatkan masyarakat melalui penguatan Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Kelompok Wanita Tani (KWT), pengembangan nursery lokal, serta pelatihan pembibitan dan rehabilitasi lahan, disertai pemantauan keanekaragaman hayati dan pengelolaan koridor satwa sesuai arahan instansi terkait.
“Upaya ini mencerminkan komitmen SEGSS untuk menyelaraskan pemulihan ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan energi panas bumi guna mendukung pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)








