PusaranNews.com, Lampung Barat – Bagi masyarakat Sekincau, kopi sudah menjadi bagian kehidupan sejak puluhan tahun lalu. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari kebun kopi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, hingga membangun masa depan.
Sebagian warga bahkan telah mengusahakan kopi sejak tahun 1970-an, jauh sebelum kawasan Bukit Barisan Selatan ditetapkan sebagai taman nasional.
Di sisi lain, hutan Bukit Barisan Selatan berperan penting sebagai habitat satwa liar seperti harimau dan gajah Sumatra, serta menjaga sumber air dan keseimbangan alam. Menjaga hutan sekaligus memperhatikan kehidupan masyarakat menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Melalui Program Pemulihan Ekosistem, PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) mulai melibatkan masyarakat dalam pemulihan kawasan hutan yang mengalami kerusakan.
Sepanjang 2026, Star Energy menargetkan pemulihan lahan seluas 60 hektare. Hingga saat ini, 10 hektare telah ditanami 9.300 pohon asli. Pada 2027, akan ditambah 50 hektare lagi, sehingga total komitmen mencapai 110 hektare selama tahap eksplorasi. Kegiatan dilakukan bertahap, mulai dari penanaman hingga perawatan dan pemantauan agar hutan benar-benar pulih kembali.
Dari Kebun Kopi ke Menanam Pohon
Bagi Sugeng, warga Desa Srimenanti, kegiatan penanaman pohon memberi penghasilan tambahan saat pekerjaan di kebun kopi berkurang setelah musim panen.
“Setelah musim panen kopi selesai, pekerjaan di kebun berkurang. Karena itu, kesempatan ini sangat membantu menambah penghasilan. Sebagian saya tabung untuk persiapan berumah tangga dan sebagian lagi untuk membantu kebutuhan orang tua,” ujarnya.
Manfaat serupa dirasakan Zainal Abidin, Ketua Kelompok Tani Maju Berkarya, Srimenanti.
“Kesempatan ini membawa berkah, terutama setelah musim panen selesai. Penghasilan tambahan ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan dapur dan uang jajan anak sekolah. Kami juga mendapat pengalaman baru dalam merawat tanaman,” katanya.
Zainal berharap kegiatan ini terus berlanjut, termasuk penanaman pohon buah-buahan yang nantinya bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Menjaga Hutan, Membuka Peluang Ekonomi
Harapan itu sejalan dengan rencana yang sedang dijajaki Star Energy bersama BBTNBBS dan masyarakat. Ke depan, kelompok tani berpotensi menjadi mitra berkelanjutan dalam penyediaan bibit, penanaman, hingga perawatan tanaman.
Salah satu pendekatan yang dipertimbangkan adalah memadukan pohon hutan asli dengan jenis bernilai ekonomi, seperti petai, jengkol, dan durian — tentu tetap disesuaikan dengan kondisi lahan serta aturan kawasan taman nasional.
“Bagi kami, keberhasilan pemulihan hutan bukan hanya soal berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dan dijaga dalam jangka panjang. Kami ingin masyarakat ikut mengambil peran, sekaligus menjajaki peluang agar kegiatan menjaga hutan juga memberikan manfaat bagi kehidupan mereka,” ungkap Laksmi Prasvita, Head of Social Investment, Policy and Communications PT Star Energy Geothermal.
Pohon Ditanam, Hutan Dirawat Bersama
Kawasan yang dipulihkan ditanami beragam jenis pohon asli seperti pulai, damar, meranti, medang, dan merawan — dipilih berdasarkan kajian lingkungan serta arahan teknis BBTNBBS. Penanaman hanyalah langkah awal; pohon perlu dirawat, dipantau, dan dilindungi agar hutan yang sempat rusak dapat kembali menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna, menjaga sumber air, serta menyambungkan kembali bagian-bagian hutan yang terputus.
Pemulihan hutan di Sekincau tidak bisa dilakukan sendirian. Dukungan pihak pengelola taman nasional, kelompok tani, dan warga menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Bagi warga seperti Sugeng dan Zainal, menanam hari ini bukan sekadar pekerjaan sementara, tetapi harapan bahwa hutan yang dijaga bersama kelak akan memberi manfaat bagi generasi mendatang.(*)








